Cara Mengatasi Covid

Aman, Penggunaan 39 Batch Vaksin Covid

AstraZeneca tegaskan vaksinya tidak mengandung ataupun bersentuhan dengan unsur hewani. Umat islam wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 untuk mewujudkan kekebalan kelompok. Berdasarkan hasil kajian Majelis Ulama Indonesia dengan pihak terkait lainnya ternyata vaksin Covid-19 AstraZeneca haram karena mengandung zat yang berasal babi. Ditanya mengenai kandungan tripsin babi di AstraZeneca, Rizal tak mau ambil pusing.

Karena saat ini masih banyak warga Balikpapan, khususnya pelayan publik, belum menerima vaksin. Jika vaksin lambat didistribusikan, pemulihan kehidupan regular akan lebih lama lagi. Setelah itu, sambung Muti, Auditor melakukan penelusuran media yang digunakan sesuai dengan temuan di publikasi ilmiah. Bahkan kata Muti, LPPOM MUI mengirimkan dua orang Lead Auditor Bidang Obat dan Vaksin dengan bidang keahlian Biopreses Engineering dan Industrial Microbiolog. dr. Atoillah Isfandi, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, menilai ada three hal yang menjadi pertimbangan haramnya suatu vaksin. “Pertama, kita tahu korban pandemi COVID ini cukup banyak sudah sampai ribuan. Di bulan Februari dan Maret aja per bulannya sudah 210 yang jadi korban wafat gara-gara pandemi ini. Kita punya target menyelesaikan pandemi ini dengan cara vaksinasi,” tuturnya.

Anita mengatakan bahwa vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca tidak mengandung tripsin hewani, melainkan tripsin enzim yang menyerupai jamur. Ia memaparkan, setidaknya dalam proses pembuatan vaksin itu ada tiga hal yang harus diketahui. Namun, sebagaimana dilansir dari Reuters, Minggu (21/3), MUI tetap menyetujui penggunaan vaksin AstraZeneca karena dalam situasi darurat pandemi. Ia pun mengatkaan MUI terus meminta pemerintah untuk terus mengikhtiarkan ketersedian vaksin Covid-19 yang halal dan suci, khususnya bagi umat muslim di Indonesia. Alasan kedua, adalah adanya keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau resiko deadly jika tak segera dilakukan vaksinasi Covid-19.

Vaksin Astrazeneca babi

Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri mengatakan, MUI pusat memperbolehkan vaksin buatan Korea Selatan dipergunakan meskipun ada kandungan babi karena dasar hukumnya cukup jelas, yakni dalam keadaan darurat. Mereka menegaskan vaksin yang juga sudah dapat izin penggunaan dari BPOM ini sudah dipakai oleh negara-negara muslim lainnya. Teknologi ini mengambil sel virus yang biasa serang simpanse dan dimodifikasi genetic agar gak menularkan penyakit pada manusia. Untuk mengkombinasikan virus Sars-Cov-2 dibutuhkan namanya inang supaya bisa menyatu dengan sel virus simpanse tersebut. Pada 16 Maret, MUI menetapkan fatwa 14 tahun 2021, tentang hukum peenggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Laboratorium Baric bekerja dengan Caitlin Edwards, seorang spesialis penelitian dan grasp mahasiswa kesehatan masyarakat di UNC-Chapel Hill, dalam penelitian yang menunjukkan bahwa manusia mungkin rentan terhadap limpahan SADS-CoV. “Ada kondisi kebutuhan yang mendesak atau hajah syariah dalam konteks fiqih yang menduduki darurat syari,” jelasnya. Sebelumnya, hasil pemeriksaan Badan Kesehatan Dunia , Badan Pengawas Obat Inggris , dan Otoritas Kesehatan Eropa menyatakan Vaksin AstraZeneca aman untuk digunakan. Lebih lanjut, Mimi mengatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca sudah mendapatkan persetujuan halal dari MUI Pusat.

Dalam proses pembuatan vaksin, tripsin babi diperlukan sebagai katalisator. Menurut kajian dari Majelis Ulama Indonesia , proses pembuatan vaksin AstraZeneca menggunakan tripsin hewan babi. Ketersediaan vaksin COVID-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi COVID guna ikhtiar mewujudkan herd immunity. Jika pandemi sudah terkendali atau tidak darurat lagi, Asrorun menegaskan pemerintah diwajibkan untuk mencari dan melakukan vaksinasi dengan vaksin yang halal dan suci. Asrorun menerangkan, pengkajian yang dilakukan MUI mulai dari pemeriksaan dokumen terkait komposisinya, hingga proses produksi vaksin AstraZeneca.

Adapun berdasarkan ketentuannya, MUI menyatakan produk vaksin AstraZeneca secara kandungannya, dinyatakan memiliki bahan yang secara hukum Islam, haram bagi umat Muslim. Walaupun demikian, penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZeneca pada saat ini hukumnya dibolehkan dengan lima alasan. Penelitian vaksinasi yang telah dilakukan berdasarkan mannequin penelitian dunia nyata (real-world) menemukan bahwa satu dosis vaksin diklaim mengurangi risiko rawat inap hingga ninety four persen di semua kelompok umur. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa vaksin dapat mengurangi tingkat penularan penyakit hingga dua pertiga. Meski demikian MUI masih membolehkan penggunaan vaksin tersebut karena tergolong dalam kondisi darurat. Hasanuddin mengungkapkan bahwa kebijakan serupa juga pernah diambil MUI soal izin penggunaan vaksin meningitis untuk jemaah haji dan umroh pada 2010 dan vaksin campak dan rubella pada 2018 silam.

Perusahaan Bio-farmasi Moderna dari AS menyusul umumkan sukses dengan vaksin yang diberi nama mRNA-1273 dengan efektifitas ninety four,5%. Sama dengan BioNTech, vaksin dikembangkan dengan teknologi teranyar berbasis mRNA virus. Keunggulan vaksin Moderna adalah hanya perlu pendinginan minus 30° C dan tahan seminggu dalam lemari pendingin biasa. Perusahaan Bio-farmasi BioNTech dari Jerman yang digandeng Pfizer dari AS menjadi yang pertama umumkan sukses memproduksi vaksin anti-Covid-19 yang diberi nama BNT162b2 dengan efektifitas 95%.

Pihak AstraZeneca telah mengumumkan vaksin buatannya tidak mengandung babi dan hewani turunan lainnya. Mereka mengatakan vaksin vektor virus tidak mengandung babi yang berasal dari hewan seperti yang sudah dikonfirmasi oleh Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris. Keempat, ada jaminan keamanan penggunaannya oleh pemerintah sesuai penjelasan yang disampaikan pada saat rapat Komisi Fatwa. Dan tidak jelas manfaat suatu vaksin apalagi jika mudaratnya jauh lebih besar.