Cara Mengatasi Covid

Bagus Mana Vaksin Sinovac Dan Astrazeneca? Ini Kelebihan Dan Kekurangannya » Solopos Com

Dilansir dari laman resmi AstraZeneca, 30 April 2020, AstraZeneca dan Universitas Oxford telah mencapai kesepakatan tentang pengembangan dan distribusi vaksin Covid-19. Dilansir dari Forbes, 12 Mei 2020, AstraZeneca adalah holding company atau perusahaan induk yang bergerak di bidang riset, pengembangan, dan manufaktur produk farmasi. Sementara vaksin yang dibuat Sinovac menggunakan inactivated virus atau virus utuh yang sudah dimatikan. Menurut dia, Indonesia bisa mendapatkan vaksin Covid-19 sebanyak 3 sampai 20 persen jumlah penduduk lewat jalur multilateral melalui fasilitas Covax. Sedangkan vaksin AstraZeneca merupakan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan biofarmasi dari Inggris AstraZeneca beserta Oxford University.

Vaksin Astrazeneca buatan mana

Malaysia sendiri telah memulai program vaksinasi pada akhir Februari dengan menggunakan suntikan buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat, Pfizer, yang bermitra dengan perusahaan Jerman, BioNTech. Pengiriman pertama itu akan berisi satu juta dosis vaksin AstraZeneca dari Institut Serum India. Iran tengah menunggu ketibaan four,2 juta dosis vaksin AstraZeneca, yang lebih dari tiga juta dosisnya dibuat di Korea Selatan. Pasokan bagi Iran itu didapatkan melalui skema multilateral, COVAX, yang bertujuan untuk memasok vaksin COVID-19 ke negara-negara miskin.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pasokan vaksin yang diterima dari pemerintah pusat menurut perhitungan cukup untuk memvaksinasi seluruh pedagang, guru, dan dosen di Kota Surabaya. Sedangkan untuk efek samping yang ditimbulkan baik Sinovac dan AstraZeneca kembali kepada masing-masing personal yang divaksin seperi pegal. Namun, efek samping yang ditimbulkan ringan dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya. Para pakar mengatakan, manfaat vaksinasi jauh lebih besar dari efek sampingnya.

Vaksin Astrazeneca tidak dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang sedang demam dengan suhu di atas 38°C, menderita COVID-19, atau menderita penyakit infeksi yang berat. Vaksin AstraZeneca atau AZD1222 adalah vaksin untuk mencegah penyakit COVID-19. Vaksin ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Oxford dan AstraZeneca yang dikembangkan sejak Februari 2020. Namun AstraZeneca mengatakan tidak akan mendapat untung dari vaksin selama pandemi ini. SII, produsen vaksin terbesar di dunia, telah bermitra dengan AstraZeneca, Yayasan Gates dan aliansi vaksin Gavi untuk membuat hingga satu miliar dosis untuk negara-negara miskin.

Setelah vaksinasi Sinovac, kebanyakan orang merasakan nyeri di sekitar tempat suntikan. Selain itu, setiap vaksin memiliki perbedaan waktu dalam pemberian dosis kedua. AstraZeneca merekomendasikan jeda four pekan, diperpanjang hingga 12 pekan untuk penyuntikan kedua. Sementara Vaksin Sinovac harus diberikan dengan jarak 2 pekan setelah penyuntikan pertama.

Vaksin Sinovac dan Astrazeneca dipakai untuk mengendalikan penularan Covid-19. Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunizattion , Sri Rezeki Hadinegoro, memastikan bahwa vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca aman untuk digunakan. Dia pun mengimbau masyarakat untuk tenang dan mencaritahu informasi mengenai vaksin Covid-19 dari sumber yang bertanggungjawab. Sementara itu, terkait laporan KIPI serius yang diduga disebabkan oleh AstraZeneca Batch CTMAV547, Komnas KIPI merekomendasikan BPOM untuk melakukan uji sterilitas dan toksisitas terhadap Kelompok tersebut.