Cara Mengatasi Covid

Zubairi Djoerban Tak Rekomendasikan Vaksin Astrazeneca Bagi Usia Dibawah 30 Tahun

Dari 31 kasus pembekuan darah langka yang dilaporkan ke Institut Paul Ehrlich Jerman, ditemukan bahwa setiap orang tersebut baru menerima vaksin AstraZeneca. Rusia sudah izinkan vaksin Sputnik V buatan pusat riset Gamaleja di Moskow, Agustus 2020. Walau kontroversial, ratusan ribu orang di Rusia, Belarus, India, Brasil, UAE dan Argentina telah divaksin Sputnik V. Tidak ada laporan resmi mengenai efek samping. Sejumlah negara menghentikan sementara penyuntikan vaksin Covid-19 AstraZeneca karena kemunculan efek samping yang berbahaya. Tetapi, penyelidikan European Medicines Agency menunjukkan risiko pembekuan darah setelah suntik vaksin AstraZeneca itu sangat rendah. Peneliti di Universitas Oxford justru menemukan risiko pembekuan darah langka, trombosis vena serebral setelah infeksi virus corona a hundred kali lebih besar.

Apakah vaksin Astrazeneca berbahaya

Pemerintah, kata Nadia, akan berusaha meningkatkan kecepatan penyuntikan vaksin COVID-19 dari semula 500 ribu penyuntikan per hari menjadi satu juta penyuntikan per harinya. Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunizattion , Sri Rezeki Hadinegoro, memastikan bahwa vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca aman untuk digunakan. Perkembangan itu terjadi pada hari yang sama ketika AstraZeneca dan delapan pembuat obat lainnya mengeluarkan janji yang tidak biasa, bersumpah untuk menjunjung standar etika dan ilmiah tertinggi dalam mengembangkan vaksin mereka. Dr. Ashish Jha dari Brown University mengatakan melalui Twitter bahwa signifikansi interupsi tidak jelas tetapi dia “masih optimis” bahwa vaksin yang efektif akan ditemukan dalam beberapa bulan mendatang. Dua vaksin lainnya sedang dalam pengujian tahap akhir yang besar di Amerika Serikat, satu dibuat oleh Moderna Inc. dan yang lainnya oleh Pfizer dan BioNTech Jerman.

Namun, jika dua dosis penuh yang dipakai, efektivitas malah turun ke sixty two persen. Karena tingkat infeksi virus corona Covid-19 tak terkendali, pihaknya menyarankan orang dewasa usia 18 hingga 39 tahun tanpa riwayat penyakit serius untuk menerima suntikan vaksin AstraZeneca. Badan Pengawas Obat dan Makanan juga telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization untuk vaksin tersebut. Keputusan ini mencuat usai BPOM selesai mengkaji hasil daftar penggunaan darurat dari WHO terkait vaksin AstraZeneca. Vaksin AstraZeneca cukup efektif untuk memberikan perlindungan terhadap COVID-19. Meski begitu, tidak sedikit orang menolak vaksin ini karena munculnya kabar bahwa vaksin tersebut dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya, seperti pembekuan darah dan penurunan jumlah trombosit atau keping darah.

“Dengan kondisi ini maka Indonesia termasuk dalam posisi empat besar negara di dunia yang bukan produsen vaksin, tetapi merupakan negara yang tertinggi dalam melakukan penyuntikan,” kata Nadia. “Vaksin ini bisa diberikan di atas 18 tahun malah juga untuk lansia (lanjut usia -red). Tetap dua kali diberikan, vaksin pertama, vaksin kedua dengan interval dikatakan oleh WHO 4-8 minggu,” katanya. Dalam uji coba lebih kecil yang dilakukan di Afrika Selatan, di mana varian B.1.351 sangat lazim, vaksin ditemukan 60% efektif di antara 94% peserta uji coba yang HIV-negatif, dan 49% efektif secara keseluruhan. Artinya, produk ini sudah pasti dijamin keamanannya untuk digunakan kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat lanjut usia yang berusia 60 tahun ke atas.

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah banyak membuat hal baru di dunia. Orang-orang yang tadinya mesti bekerja ke kantor kini bisa menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Tapi, karena kondisi pandemi yang mendesak, para peneliti mampu menghasilkan vaksin virus corona dalam tempo lebih singkat. Muncullah beragam vaksin untuk menangkal virus corona, seperti vaksin AstraZeneca, Sinovac, Sinopharm, Pfizer, Novavax, Sputnik, Moderna, dan lain-lain. Menyikapi hal tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan selalu instansi yang memberikan izin penggunaan vaksin Covid-19 di Indonesia melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut.

Menurutnya, Indonesia masih menunggu penelitian lebih lanjut dari WHO mengenai hal itu, Lebih lanjut, Budi juga mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu fatwa halal vaksin AstraZeneca dari Majelis Ulama Indonesia . Meski begitu, ia tidak serta merta memberikan izin untuk menyebarkan vaksin tersebut. Ada yang menangguhkan karena menunggu penyelidikan lebih lanjut, ada juga yang menunggu pernyataan tertulis yang menyatakan bahwa vaksin tersebut aman untuk digunakan. Vaksin Covid-19 AstraZeneca ditemukan bersama oleh Universitas Oxford dan perusahaan spin-outnya, Vaccitech. Vaksin ini menggunakan vektor virus simpanse yang tidak bereplikasi berdasarkan versi yang dilemahkan dari virus flu biasa yang menyebabkan infeksi pada simpanse dan mengandung materi genetik dari protein spike virus SARS-CoV-2.

“Jadi, tidak ada alasan masyarakat untuk ragu-ragu mengikuti program vaksinasi,” tegasnya. Ia menegaskan jangan ada lagi keraguan dari masyarakat untuk vaksinasi COVID-19. Dalam cuitannya di akun Twitter,@ProfZubairi, vaksin AstraZeneca memang dianggap cukup menyita perhatian dibanding vaksin COVID-19 lainnya.

Hal itu diduga adanya sindrom pembekuan darah yang banyak dilaporkan usai masyarakat diberi vaksin asal Inggris itu. Menyusul pernyataan WHO, regulator obat-obatan di Eropa dan Inggris menyatakan manfaat dari vaksin COVID-19 AstraZeneca jauh melebihi resikonya. Namun, untuk langkah antisipasi, mereka menyatakan akan memperbarui panduan penggunaan vaksin AstraZeneca. “Walau kami mendapat laporan soal pembekuan darah terjadi usai vaksinasi COVID-19 dengan produk AstraZeneca dilakukan, tidak ada bukti pasti hal itu disebabkan vaksinasi. Dan, itu kasus yang sangat langka dan unik,” ujar Ghebreyesus. Mengacu pada kabar sebelumnya, kurang lebih ada 30 kasus pembekuan darah yang terjadi usai vaksinasi.

Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan Inggris , mengatakan, orang-orang di Inggris harus tetap pergi ke layanan kesehatan untuk mendapatkan vaksin COVID-19 ketika diminta. “Saat ini tidak ada indikasi bahwa vaksinasi menyebabkan kondisi ini ,” kata EMA. Pengumuman tersebut menyusul kekhawatiran bahwa Presiden Donald Trump akan menekan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS untuk menyetujui vaksin sebelum terbukti aman dan efektif. “Kami sedang bekerja untuk mempercepat peninjauan peristiwa tunggal untuk meminimalkan potensi dampak pada jadwal uji coba,” kata pernyataan perusahaan.

“Saatnya sekarang bersatu dan hindari polemik yang tidak produktif,” pesannya. Vaksinasi Covid-19 sangat penting untuk menghentikan pandemi secara global. Tentunya dengan kombinasi 3M atau mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker.